Absensi Digital Dinilai Gimmick Birokrasi? Publik Geram: ASN Hadir, Tapi Apa yang Dikerjakan?”

 


Soppeng —Sulawesitoday.                Gelombang kritik terhadap sistem absensi digital mulai menguat. Di tengah klaim modernisasi birokrasi, publik justru menilai absensi berbasis aplikasi kini berubah menjadi sekadar formalitas tanpa jaminan peningkatan kinerja.


Pertanyaan yang mengemuka pun semakin tajam: apa gunanya hadir tiap hari jika tidak meninggalkan dampak bagi pelayanan masyarakat?


Di banyak daerah, termasuk Soppeng, masyarakat menyoroti bahwa pemerintah terlalu fokus pada data kehadiran — sidik jari, titik lokasi, selfie absensi — tetapi abai mengukur kualitas kerja.


Absensi hanya mencatat keberadaan fisik ASN, namun tidak menggambarkan bagaimana tugas diselesaikan, apakah program berjalan, atau seberapa besar manfaat yang diterima masyarakat.


Ketua LSM LPKN, Alfred, bahkan menyampaikan kritik terbuka.


“Jangan sampai birokrasi sibuk mengurus jam datang dan jam pulang, tapi nihil manfaat. Yang dibutuhkan masyarakat adalah kerja nyata, bukan sekadar data kehadiran,” tegasnya, Selasa (26/5/2026).


Meski absensi digital diakui membawa sisi positif seperti transparansi dan pencegahan manipulasi kehadiran, publik menilai kehadiran bukanlah ukuran akhir, dan tidak bisa menjadi satu-satunya indikator disiplin.


Pengamat tata kelola mulai mendorong sistem evaluasi yang lebih keras dan menyeluruh: menggabungkan absensi dengan capaian program, kualitas layanan, ketepatan administrasi, inovasi, hingga survei kepuasan masyarakat.


Isu ini memunculkan pertanyaan yang lebih tajam:


ASN yang rajin absen tapi minim output, apakah lebih baik daripada ASN yang menghasilkan program nyata di lapangan namun tidak selalu terekam aplikasi?


Di ruang publik, perdebatan semakin mengerucut:


Era digital tidak boleh melahirkan birokrasi yang hanya tercatat hadir, tetapi harus menghadirkan birokrasi yang benar-benar bekerja.


Jika tidak, absensi digital hanya akan menjadi gimmick birokrasi — rapi di laporan, tetapi kosong manfaat di lapangan.


Kini kritik publik semakin jelas: bukan lagi sekadar siapa yang hadir, tetapi apa hasil dari kehadiran itu.

0 Komentar

Terkini